Wisata Singkat Keliling Shanghai

Shanghai-Huangpu-river-view

Singkat cerita waktu itu saya berkesempatan untuk berkunjung ke Shanghai dengan rekan kerja. Karena tujuan utama untuk pekerjaan jadinya tidak ada rencana khusus untuk mengunjungi tempat wisata apalagi jalan-jalan keliling Shanghai.

Beruntungnya setelah urusan pekerjaan beres masih ada sedikit waktu untuk berkeliling dan mengunjungi beberapa tempat menarik di Shanghai.

Nah, berikut ini adalah tempat-tempat yang saya kunjungi ketika berada di negeri Tirai Bambu tersebut:

Nanjing Road Pedestrian Street

Jika diumpamakan di Indonesia, tempat ini lebih mirip Malioboro di Yogyakarta. Namun, tetap ada beberapa perbedaannya dengan Malioboro. Pertama, toko yang berada disepanjang Nanjing Road ini banyak yang menjual barang-barang dengan merk terkenal (branded) mulai dari peralatan dapur, pakaian hingga peralatan elektronik.

Nanjing road ketika malam hari
Nanjing road malam hari

Kedua, Nanjing Road jalannya sangat lebar, bahkan lebih lebar dari jalan raya yang dilewati kendaraan bermotor disekitarnya, tapi bukan jalan tol ya, hehe.

Nanjing road shanghai
Shanghai women, Nanjing Road Shanghai

Setiap hari jalan ini pasti ramai, terlebih jika di hari jumat malam dan sabtu malam pasti jauh lebih penuh. Karena lokasinya cukup dekat dengan hotel yang kami inapi, setiap hari kami selalu melewati jalan ini.

Shanghai City Sightseeing bus

Bus ini adalah alat transportasi utama yang kami gunakan untuk menuju tempat-tempat menarik disekitaran Shanghai.

Desain busnya mirip dengan bus wisata gratis yang ada di Jakarta yang double decker alias tingkat. Bedanya ada beberapa bus yang tidak dilengkapi penutup dibagian lantai atas.

Shanghai City Sightseeing bus, bus wisata city tour Shanghai
Shanghai City Sightseeing bus 

Terus ada lagi perbedaanya, jika di Jakarta kita bisa bebas masuk alias gratis, sedangkan untuk bus City Sightseeing ini harus bayar. 

Setelah membeli tiket kami mendapatkan satu buah brosur yang berisi peta rute yang akan dilewati dan satu buah headset yang bisa digunakan untuk mendengarkan informasi disepanjang perjalanan.

Informasi suara yang dapat didengar dapat dipilih bahasanya, diantaranya Bahasa Mandarin, Inggris, Jepang, Korea, Jerman, Spanyol, dan Italia. Karena tidak ada pilihan bahasa Indonesia dan bahasa Jawa ya otomatis pasrah mendengar dengan bahasa Inggris. 😀

Baca Juga:Chinese Garden, Alternatif Tempat Berlibur Gratis di Singapura

Huangpu River

Dengan menggunakan bus merah tadi,  kami menuju pinggiran sungai Huangpu (Huangpu River). Tempat ini lebih dikenal karena view gedung pencakar langit di seberang sungainya. 

Apalagi saat malam hari, lampu-lampu gedung terlihat cukup indah dengan adanya refleksi dari air sungai. Bisa dibilang ini adalah tempat wajib dan mainstream ketika berwisata ke Shanghai.

Huangpu river view siang hari
Huangpu river view, siang hari
Huangpu river view, malam hari
Huangpu river view, malam hari

Di tepian sungai ini banyak sekali kios yang menjajakan aneka makanan. Selain itu, jika ingin menyeberangi sungai kita bisa menggunakan beberapa moda transportasi, seperti feri dan kereta bawah tanah.

Yuyuan Market

Sama halnya dengan Huangpu River, tempat ini juga cukup mainstream bagi wisatawan lokal maupun mancanegara.

Pasar dengan desain bangunan khas China ini menjajakan beraneka macam produk yang bisa dijadikan oleh-oleh, seperti pakaian, aksesoris, hingga makanan. 

Tempat belanja oleh-oleh di Shanghai
Salah satu lorong di Yuyuan Market Shanghai

Karena kecerobohan saya menjatuhkan botol dari raknya, akhirnya saya diminta untuk membeli botol tersebut oleh penjualnya. Selain botol hasil musibah tadi, saya juga membeli beberapa oleh-oleh seperti baju, tempelan kulkas, dan gantungan kunci di komplek pasar ini.

Uniknya, di salah satu toko yang kami kunjungi, penjualnya bisa berbicara bahasa Indonesia dengan sangat lancar. Karena kemudahan komunikasi, rombongan kami banyak yang membeli berbagai macam oleh-oleh di toko ini.

Oriental Pearl Tower

Oriental pearl tower
Tertutup kabut, ditambah framing ngasal

Lokasinya persis diseberang Huangpu River, dan bentuk bangunannya sangat mudah ditebak. Cara menuju ke menara ini ada beberapa pilihan, bisa menyeberang menggunakan bus, feri, dan kereta bawah tanah.

Sebelum masuk area Oriental Pearl Tower kita harus melewati security cek layaknya masuk ke bandara dan tidak boleh ada yang membawa korek api. Setelah itu kami harus ikut dalam antrean lift kurang lebih selama satu jam.

Pemandangan dari lantai kaca

Salah satu tempat yang menjadi favorit pengunjung di tower dengan ketinggian 468 meter ini adalah lantai kaca (saya lupa nama resminya apa). Namun sayangnya, waktu itu cuaca sedikit hujan disertai dengan kabut yang cukup tebal sehingga pemandangan tidak terlalu terlihat jelas.

***

Karena perjalanan ini murni tidak ada tujuan untuk jalan-jalan maupun berwisata, jadi hanya itu saja yang bisa diceritakan, terima kasih.

1 Komentar

  1. Tuteh Balas

    Semuanya keren dan pasti seruuuu. Apalagi naik lift yang lantainya terbuat dari kaca… Itu kalau saya, lutut sudah gemetar duluan hahahah 😀

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *