Nekat Keliling Singapura Sendirian!! (Drama Keberangkatan)

Tiket pertama ke singapura

Gimana nggak dibilang nekat. Dengan bermodalkan muka, kantong, serta informasi yang pas-pasan, jumat malam saya berangkat menuju Bandara Sukarno Hatta di Tangerang Banten. Tujuannya pun cukup mainstreem bagi sebagian orang yang suka melancong. Tapi apalah dayaku hanyalah seorang anak kampung dari pedalaman Jombang. Bertandang ke Singapura merupakan hal yang cukup waah, hehe..

Berangkat “Tepat” Waktu

Haha,,kalau inget kejadian waktu itu saya pengen ketawa dan nggak pengen mengulangi lagi.

Jadi, ceritanya jadwal pesawat yang tertera di aplikasi menunjukkan bahwa pesawat berangkat pukul 21.35 WIB. Tapi, celakanya pada pukul 8 malam saya masih di jalan tol arah bandara yang macetnya kebangetan. Nah, saat berada di dalam mobil, banyak drama dalam fikiran, hati, dan dunia maya saya. Mulai dari mencoba ikhlas kalau seumpama telat dan ditinggal pesawat, hingga mencoba menghubungi mas Alid yang pada waktu itu sebagai “petunjuk” jalan untuk saya yang baru pertama mencoba main ke negara orang. Salah satu percakapan saya via WA dengan mas Alid yang masih sedikit saya ingat adalah seperti ini.

“mas Alid kalo keberangkatan luar negeri, minimal di bandara berapa jam sebelum pesawat berangkat?”

“2 jam, soalnya di imigrasi biasanya antri dan itu yang bikin lama” jawab mas Alid. Kurang lebih seperti itu.

Melihat jawaban seperti itu saya menjadi semakin panik dan nggak karuan, dan akhirnya saya mencoba berdiam diri dan mencoba ikhlas (lagi) serta berharap semoga keberangkatannya delay, hehe.

Pesan dari petugas counter check-in

Sekitar pukul 21.00 saya baru tiba di terminal 2 dan langsung menuju ke counter check-in untuk mencetak boarding pas saja, karena memang sebelumnya saya sudah web check-in terlebih dahulu. Nah, di counter ini terjadilah perbincangan dengan petugas counter check-in-nya, padahal waktu itu sudah mepet dan terburu-buru.

“Baru pertama ya mas ke luar negeri?” tanya si mbak penjaga counter-nya

“iya mbak, kenapa ya?” saya jawab dengan nada penasaran

“bawa uang berapa mas, biasanya kalau pertama kali nanti bakal ditanyain, kan di sana juga perlu uang buat hidup, terus kalau sampai nanti nggak bisa lolos di imigrasi sana (Singapura) musti kembali dengan membeli tiket pesawat yang baru”

Waduh, mendengar jawaban seperti itu saya agak berfikir dan spontan membuka dompet dan mengingat-ingat tabungan yang ada di kartu debit saya.

“Kalau uang cash nggak banyak mbak, tapi kalo di ATM ada” jawab saya. Sebenarnya percakapan masih berlanjut tapi membahas masalah aturan barang bawaan yang semestinya nggak boleh dibawa kedalam kabin pesawat, tapi skip ajalah dari pada kepanjangan hehe.

Betapa perhatiannya petugas imigrasi

Setelah dari counter check-in saya langsung bergegas ke imigrasi. Di sini saya mencoba tetap tenang meskipun waktu semakin mepet. Entah karena waktu yang sudah malam atau memang keberuntungan waktu itu imigrasi sangat sepi dan bebas dari antrian. Dengan menyerahkan boarding pass dan paspor, saya ditanyai oleh petugas imigrasi kurang lebih seperti ini

“Berapa hari ke Singapura?” petugas bertanya cukup tegas

“sampai minggu aja pak” saya jawab dengan nada yang cukup tegas pula.

Beruntungnya pertanyaannya nggak sengeri yang sering saya dengar dan saya baca dalam cerita dan blog ketika menghadapi petugas imigrasi. Atau mungkin karena sudah jam malam kali ya, petugas imigrasinya jadi “selow” gitu,  hehe.

“Cttok…Cttok” bunyi stampel di paspor saya, dan setelah itu saya dipersilahkan masuk di zona internasional,,,horey.

Stampel di paspor
Stampel berbentuk segitiga dari imigrasi Indonesia

Dari lokasi imigrasi menuju ke ruang tunggu pesawat jaraknya cukup jauh. Beruntungnya ketika sudah tiba di ruang tunggu waktu itu masih ada banyak orang yang belum masuk kedalam pesawat.

Penerbangan internasional pertama kalinya

Setelah masuk pesawat saya merasa bersyukur sekali, meskipun disaat perjalanan menuju bandara dipenuhi dengan drama ketegangan, tapi pada akhirnya membuahkan hasil. Dan impian untuk menjejakkan kaki di negeri orang akhirnya tercapai.

Drama masih berlanjut ketika saya sudah duduk di dalam pesawat Jetst*r yang pada malam itu menerbangkan saya. Jadi di samping kiri tempat duduk saya ada seorang bapak-bapak yang berasal dari Jakarta. Sebagai sesama warga Indonesia saya mencoba sedikit berbincang

“ke Singapura pak?” tanya saya membuka perbincangan

“iya” jawabnya singkat

“Udah sering pak ke Singapura?” saya masih mencoba mencairkan suasana

“Nggak sering tapi dulu udah pernah sih, kamu gimana?” jawab bapak dengan sedikit lunak sembari bertanya

“ini pertama saya pak” saya jawab dengan nada bahagia

“sendirian pak?” (dalam hati saya, semoga bapaknya sendirian jadi bisa lebih banyak bercerita)

“enggak, saya berempat bareng temen saya di belakang. Kamu sendirian?” bapaknya tanya balik

“iya pak saya sendirian” (yah, langsung seketika itu saya bertanya dalam diri sendiri “apakah nggak ada lagi yang sendirian ke Singapura seperti saya?”)

Bapak dalam pesawat yang informatif dan perhatian

Nggak lama setalah perbincangan dengan bapak tadi, pramugari berkeliling untuk membagikan selembar kertas. Awalnya saya penasaran kertas apa sebenarnya itu. Tapi saya merasa itu adalah kertas yang katanya harus diisi sebelum memasuki suatu negara dan harus dikembalikan lagi ke petugas imigrasi ketika akan meninggalkan negara tersebut.

Akhirnya saya meminta 1 lembar dan ternyata benar sesuai dengan dugaan saya, ini adalah kartu imigrasi untuk memasuki Singapura. Setelah mendapatkan kartu dan membaca isi kartu, saya berbincang lagi dengan bapak di samping saya tadi.

“ini nanti diisi, tapi biasanya di bandara juga ada, tapi nggak apa disimpan aja dulu nggak bawa pulpen juga kan?”

“o iya pak, terima kasih pak”, sebetulnya waktu itu saya membawa alat tulis tapi saya letakkan di dalam tas, dan tas berada di bagasi kabin.

Setelah itu saya melihat ada tulisan mengenai denda di kartu imigrasi ini,

“pak satu dolar Singapura berapa ya?” saya tanya bapak tadi iseng, sembari menunjuk kartu imigrasi bertuliskan denda SGD 30.000

“sekitar 10 ribu kalo nggak salah” dijawab semampunya oleh bapak tadi.

Setelah pertanyaan itu, saya masih iseng bertanya ke Bapak tadi

“bapak langsung ke hotel atau gimana?”

“iya nanti kita langsung ke hotel naik taksi, kamu kemana?” tanyanya

“saya paling di bandara dulu pak nunggu pagi baru keliling” jawab saya dengan nada sedikit memelas

Tak lama setelah itu kita sudah hampir tiba dan mendarat di Changi International Airport Singapore. Dan ketika saya turun duluan bapak tadi memberikan beberapa patah kata perpisahan keapada saya.

“Hati-hati ya, dan selamat liburan”

” o iya pak terima kasih” jawab saya dengan nada bahagia.

Nah, ini adalah tulisan awal saya ketika saya Nekat Keliling Singapura Sendirian. Semoga saya masih semangat untuk menulis cerita selanjutnya, hehe.

O iya karena waktu itu saya cukup was-was dan terburu-buru jadinya nggak sempat foto-foto, maafin ya. hehe

Sekian

10 Komentar

  1. Warda Balas

    Suka tantangan ya mas rois? Jempol 4 buat keberaniannya mas… besok2 coba yg lebih menantang y mas… 😆😁

  2. Rudi Hartoyo Balas

    wahhh,,, jadi penasaran cerita selanjutnya bang,, khususnya saat melewati imigrasinya…

    saya belum pernah kesana nih,,

  3. dinilint Balas

    There’s always be the first time for everything,, dan rasa-rasanya pengalaman pertama kali itu lebih berkesan kan

  4. Liana Balas

    nekat bener mas! haha
    saya belum pernah berani ke luar negeri sendiri, pernah jalan dari aceh ke medan sendiri aja keknya udah sepi wkwk
    bukan ga berani, cuma ga enak aja ga ada temen ngobrolnya 😀

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *