Mendaki Gunung Papandayan: Kedua Kalinya!

Sunrise Gunung Papandayan

Sesuai dengan judulnya, ini adalah kali kedua saya mendaki gunung Papandayan, gunung yang biasa dikenal sebagai gunung untuk pendaki pemula. Bahkan sebagian orang ada yang beranggapan bahwa mendaki Papandayan bukanlah mendaki gunung melainkan mendaki bukit. Kemudahan logistik saat berada di sepanjang jalur pendakian dan di camping ground menjadi alasan gunung ini tidak terlalu berat untuk didaki.

Meskipun banyak kemudahan, bukan berarti mendaki gunung dapat dilakukan tanpa persiapan yaa…

Berangkat dari Jakarta menuju Garut

Pendakian ini saya lakukan dengan 20 orang yang mengikuti salah satu penyelenggara Open Trip. Jadi mulai dari jadwal, transportasi dan logistik kelompok akan ditanggung oleh penyelenggara open trip. Sementara itu, yang harus saya siapkan hanya fisik yang prima, serta beberapa peralatan dan perlengkapan pribadi.

Perlengkapan Mendaki Gunung
Perlengkapan Pribadi Mendaki Gunung

Tempat berkumpul (Meeting point) saat masih di Jakarta adalah di Terminal Kampung Rambutan. Dan setelah itu akan dilanjutkan perjalanan menuju Garut bersama-sama menggunakan bus pada pukul sepuluh malam.

Pukul empat pagi kami tiba di Garut, dan hawa dingin sudah sangat terasa pagi itu. Saat itu kami turun di SPBU Leles karena telah membuat janji dengan pemilik kendaraan yang akan digunakan untuk menuju kaki gunung Papandayan.

Karena saat itu sedang libur panjang Hari Kemerdekaan Republik Indonesia. Tak heran jika kondisi tempat parkir di kaki gunung sudah begitu penuh dengan berbagai jenis kendaraan pribadi. Bahkan ada salah satu komunitas mobil yang melakukan family gathering di kawasan gunung Papandayan.

Parkir Papandayan
Parkiran penuh dengan kendaraan pribadi

Sebelum mendaki Gunung Papandayan

Setibanya di kaki gunung, kami langsung melipir di warung sebelah tempat parkir untuk beristirahat dan menyiapkan segala hal sebelum melakukan pendakian.

“untuk mendaki gunung, bukannya ada prosedur terkait administrasinya ya?”

Memang ada, tapi karena saya mengikuti open trip jadi cukup dari penyelenggaranya saja yang melakukan registrasi. Jadi sebagai peserta kami hanya terima beres dan tinggal mengikuti saja, enak kan..

Jalur Pandakian Gunung Papandayan

Setelah berkemas dan sarapan, pendakian dimulai pada pukul sembilan pagi. Gerbang pendakian hanya berupa gapura sederhana yang terbuat dari anyaman bambu.

Setelah melewati gapura, jalur awal pendakian berupa tanjakan beraspal cukup lebar. Tanjakan beraspal ditempuh kurang lebih 15 menit, setelah itu pendaki akan menapaki anak tangga serta jalanan yang tersusun dari bebatuan.

Nah, di bebatuan ini pendaki dituntut untuk berhati-hati agar batu yang dijadikan sebagai pijakan tidak jatuh kebelakang yang dikhawatirkan bisa mengenai pendaki lain di belakang.

Selain jalur pendakian berupa tanjakan batu, yang harus menjadi perhatian bagi para pendaki adalah lalu lalang pengendara motor (porter). Porter ini mengantarkan barang bawaan pendaki menuju Pondok Salada yang jalurnya bersebelahan dengan jalur pendakian.

Porter motor papandayan
Porter motor papandayan bersebelahan dengan jalur pendaki

Rute bebatuan ditempuh kurang lebih selama 30 menit.

Meskipun jalanan sudah mulai menanjak dengan medan bebatuan, para pendaki masih dapat menjumpai tempat istirahat yang dilengkapi dengan toilet.

Toilet di Papandayan
Toilet warna atap hijau

Tiba di tempat istirahat berikutnya pendaki akan menjumpai beberapa warung yang menjual berbagai jenis makanan ringan hingga buah-buahan.

Semangka Papandayan
Semangka dibeli di warung jalur pendakian

Sebetulnya selain di Papandayan ada juga penjual makanan di beberapa gunung lain, namun di Papandayan para penjual jauh lebih “niat” karena perlengkapan yang ada di warung jauh lebih lengkap.

salah satu warung di Gunung Papandayan
salah satu warung di Gunung Papandayan

Ketika beristirahat di salah satu warung yang ada, saya melihat ada beberapa keluarga yang mendaki gunung ini. Bahkan ada yang berani membawa anaknya untuk ikut mendaki.

Pendaki cilik papandayan
Pendaki cilik papandayan

Setelah puas beristirahat, pendakian kami lanjutkan kembali. Jalur pendakian berikutnya berupa jalanan tanah berbatu yang semakin menanjak.

Jalur Pendakian Papandayan
Jalur Pendakian Papandayan
Jalur Pendakian Papandayan
Jalur Pendakian Papandayan
Jalur Pendakian Papandayan
Jalur Pendakian Papandayan

Melipir ke Danau Papandayan

Hampir lupa, ketika istirahat sebetulnya kami menyempatkan berkunjung ke Danau Papandayan.

“emang ada danaunya ya di Papandayan ?”

Ada kok, tapi danaunya tak seperti danau pada umumnya yang cukup luas. Danau ini terbentuk karena cekungan yang terisi dengan air hujan. Warna air danau ini juga dapat berubah-ubah tergantung dengan musim. Jadi, jika musim penghujan air danau akan berwarna hijau, dan ketika musim kemaru air danau menjadi kuning kecoklatan. Danau ini jarang dikunjungi karena letaknya yang cukup jauh dari jalur pendakian.

Jalur menuju danau Papandayan
Jalur menuju danau Papandayan
Danau Papandayan
Danau Papandayan saat kemarau

Camping ceria di Pondok Salada

Pada pukul satu siang, akhirnya kami tiba di camping ground Pondok Salada. Kegiatan berikutnya adalah mendirikan tenda dan menyiapkan makan.

Camping Ground Papandayan
Camping Ground Papandayan

Sembari makan bersama, kami saling berkenalan antar peserta open trip. Tapi, karena saking banyaknya peserta jadinya saya kurang begitu mengenal dengan peserta lainnya hehe.

Sama halnya saat di jalur pendakian, di Pondok Saladah juga terdapat beberapa fasilitas yang sangat memudahkan para pendaki, mulai dari beberapa warung, toilet hingga Mushola. Keren kan, baru kali ini saya nemu mushola diatas gunung hehe.

Mushola di gunung papandayan
Mushola di gunung papandayan

Saat malam hari, kami dihadiri seekor babi hutan. Babi Hutan merupakan salah satu hewan liar yang biasa ditemui saat berada di kawasan Pondok Saladah Gunung Papandayan. Karena hewan nokturnal, babi hutan cukup mudah ditemui bahkan menghampiri tenda saat malam hari.

Yang dilakukan babi hutan ketika mendekati tenda adalah mengais sisa makanan yang telah dibuang oleh pendaki. Jadi, ketika malam tiba jangan sampai menyembunyikan makanan apapun di dalam tenda. Sayangnya waktu itu saya tak sempat mengambil gambar babi hutan tersebut.

Menjelang tengah malam, bulan mulai menampakkan cahayanya. Rencana saya untuk mencari Milky Way hampir saja saya batalkan. Setelah melihat aplikasi Stellarium, diperkirakan bulan akan tenggelam pada pukul satu pagi. Demi mendapatkan foto Milky Way saya rela begadang dan menahan hawa dingin pegunungan ditemani dengan beberapa rekan yang juga ingin memotret bintang.

Bima sakti Papandayan
Bima sakti Papandayan
Milky Way Papandayan
Milky Way Papandayan
Milky Way Papandayan
Milky Way Papandayan

Berburu sunrise di Hutan Mati

Setelah puas semalaman berburu Milky Way, di pagi hari kami langsung bergegas menuju hutan mati untuk melihat sunrise. Meskipun sedikit kesiangan namun kami masih mendapatkan pancaran matahari pagi yang masih berwarna oranye.

Sunrise Hutan Mati Papandayan
Sunrise Hutan Mati Papandayan
Sunrise Hutan Mati Papandayan
Sunrise Hutan Mati Papandayan

Setelah puas berfoto dan matahari mulai meninggi kami kembali ke tenda untuk sarapan pagi.

Pendakian ke Papandayan kali ini tidak sampai menyentuh puncak. karena hanya beberapa orang saja yang ingin menuju ke puncak Papandayan.

Puncak papandayan jubilee
Foto Pendakian Papandayan pertama kali (Mei 2017)

Jadi kurang lebih seperti itu cerita dan beberapa foto yang bisa saya bagikan ketika Camping Ceria di Gunung Papandayan.

Terima kasih.

***

Ada sedikit tips yang mungkin berguna ketika mendaki gunung papandayan:

  • Jangan lupa menggunakan sun blok (tabir surya), karena saya terlalu menyepelekan matahari yang sedang terik-teriknya, pulang dari Papandayan kulit wajah saya menjadi perih dan terbakar.
  • Jangan simpan makanan apapun dalam tenda, apalagi saat malam hari. Hal ini dilakukan demi menjaga keamanan tenda dari serangan babi hutan yang kelaparan.
  • Meskipun tak terlalu tinggi mdpl-nya, suhu di gunung Papandayan sangat dingin. Jadi persiapkan fisik, perlengkapan dan tentunya minuman hangat untuk menjaga badan tetap dalam kondisi hangat.
  • Bawa beberapa uang cash, karena saat berada di jalur pendakian dan Pondok Saladah kita dapat membeli berbagai macam makanan ringan, hingga berat sekalipun.
  • Jangan buang sampah sembarangan, meskipun kawasan Gunung Papandayan sudah dikelola oleh perusahaan dan sampah-sampah di area camping ground rutin dibersihkan, bukan berarti bisa seenaknya membuang sampah !.

 

nb: mohon maaf karena lensa kotor kualitas foto jadi terganggu dengan adanya bintik di frame. 🙁

7 Komentar

  1. Tuteh Balas

    Akkkk jadi ingat 2010 mendaki gunung ini juga, cuma enggak kuat sama aroma belerang hahah dan kami memang tidak berencana menginap/kemping alias langsung pulang.

    • Fajar Rois PenulisBalas

      iya si…memang lumayan banget aroma belerangnya…jadinya waktu itu pada pake masker kebanyakan….weeeh…sayang banget sebenernya kalo nggak nginep diatas….kalo malem pemandangan bintang yg jarang dilihat di kota bisa dilihat dengan jelas padahal hehee..

  2. Erwin Balas

    Keren tempatnya. Pemandangan langit waktu malam itu yang paling keren, banyak bintang-bintang yang bisa dilihat.

  3. yuntango Balas

    Selalu tertarik kalau baca pengalaman orang naik gunung. Dan punya bucket list sendiri juga untuk naik gunung, terutama Papandayan. Tapi sampai sekarang masih belum berani juga. 🙁

    Btw, foto milky waynya cantik banget!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *