Hari Pertama di Singapura!

Singapore_city_fajarrois

Hai semuanya, setelah sekian lama belum update postingan, akhirnya selesai juga tulisan yang melanjutkan cerita saya waktu pertama kali berkunjung ke Singapura.

Baca Juga: Nekat Keliling Singapura Sendirian!! (Drama Keberangkatan)

Tiba di Bandara Internasional Changi Singapura

Terminal 1 kedatangan Bandara Changi
Terminal 1 kedatangan Bandara Changi

Setelah Melakukan perjalanan kurang lebih 2 jam di darat dan udara akhirnya saya tiba di Bandara Internasional Changi di Singapura. Turun dari pesawat hal pertama yang saya cari adalah jaringan wifi. Cukup dengan memasukkan nomor hp, saya bisa langsung terhubung dengan wifi secara gratis dan setelah itu saya segera menghubungi teman-teman dan memberi kabar bahwa saya telah tiba di Singapura. Selain untuk memberi kabar, adanya jaringan wifi saya manfaatkan untuk mendownload peta agar nantinya tetap dapat digunakan meskipun dalam keadaan offline.

Puas beristirahat dan wifi-an, saya melanjutkan perjalanan untuk mencari tempat penukaran uang atau money changer. Tempat penukaran uang yang ada di Terminal 1 buka selama 24 jam, jadi tetap santai meskipun lupa menukarkan uang waktu di Indonesia. Nah, bagi yang nggak mau ribet menukarkan uang ada juga kok mesin atm yang bisa dipake dengan kartu debit Bank yang ada di Indonesia dengan logo-logo yang harus serupa tentunya.

Setelah menukarkan uang, saya mencoba berkeliling menyusuri seluruh ruangan yang ada di lantai 2 terminal 1 ini. Karena waktu itu saya tiba tengah malam, kondisi bandara saat itu cukup sepi dan pertokoan juga sudah banyak yang tutup. Hanya ada beberapa toko saja yang memang buka 24 jam.

Salah satu toko yang buka 24 jam adalah 7-Eleven (Seven Eleven a.k.a Sevel). Di Sevel saya hanya membeli sebotol air mineral dan sebungkus roti Dorayaki. Sempat kaget waktu melihat bandrol harga sebotol aqua ukuran 600ml seharga SGD 1,5 (sekitar RP14.000) beda jauh dari Indonesia yang cuma Rp5.000. Jadinya waktu itu saya nggak beli Aqua melainkan air mineral lokal yang saya lupa apa merknya dan yang pasti lebih murah, hehe.

Selain untuk diminum, nantinya botol air mineral yang seharusnya cuma satu kali pakai ini, akan saya gunakan sebagai wadah air minum dari keran yang ada di tempat umum di negara ini. O iya meskipun air yang berasal dari keran (Tap Water) dapat diminum tetapi ada sedikit aroma kaporit yang kemungkinan tak semua orang mau meminumnya.

Snooze Lounge di Bandara Changi Singapura

Snooze Lounge Terminal 1 Changi
Snooze Lounge Terminal 1 Changi

Puas beristirahat sejenak dengan menyantap sebungkus roti dan air mineral, saya kembali mengelilingi tempat ini. Berharap menemukan tempat yang nyaman yang bisa digunakan untuk bermalam. Yup bermalam, saya sengaja bermalam di bandara untuk mengurangi ongkos bermalam di penginapan dan sekaligus biar bisa langsung jalan-jalan di pagi harinya.

Saat masih terhubung dengan wifi saya sempat bertanya ke teman saya yang berasal dari Malaysia, Kak Frey namanya. Pertanyaan saya ke kak Frey yakni tentang tempat istirahat yang nyaman di Bandara Changi, selain itu saya juga sempat googling mengenai tempat-tempat dan fasilitas yang ada di bandara Changi ini.

Dan ternyata ada salah satu tempat yang memang secara khusus didesain sebagai tempat istirahat dengan disediakan kursi memanjang yang bisa digunakan untuk selonjoran. Namanya adalah Snooze Lounge, tempat ini digunakan untuk beristirahat sembari menunggu pesawat atau saat transit. Jadi sebetulnya nggak boleh menginap ditempat itu (katanya). Bahkan kata teman saya ketika tidur di bandara bakalan dibangunkan oleh petugas keamanan bandara sekitar pukul 3 pagi dan diminta meninggalkan bandara.

Snooze Lounge terletak di lantai 3 terminal 1 dekat dengan Pray Room, ini untuk yang di terminal 1 ya untuk terminal lain saya belum tau. Karena datang larut malam Snooze Lounge sudah dipenuhi dengan orang yang beristirahat. Tak berfikir panjang akhirnya saya memutuskan untuk istirahat dan rabahan beralaskan karpet disekitaran Snooze Lounge bersama dengan para pelancong lainnya, ngenes ya.

Nah, entah keberuntungan atau apa ya, waktu itu saya tertidur sampai pagi tidak dibangunkan oleh petugas keamanan bandara. Bahkan saya tidak menjumpai petugas keamanan yang berada di tempat saya beristirahat, atau mungkin saya terlalu pulas tidur, hehe.

Train To City

Skytrain ke Terminal 2 Changi
Skytrain ke Terminal 2 Changi

Setelah terbangun saya menuju toilet untuk bersih-bersih badan dan tak jauh dari toilet saya juga ke pray room untuk menunaikan sholat Subuh. Setelah itu saya langsung menuju lantai 1 untuk melewati imigrasi Singapura.

Nah, entah keberuntungan atau memang masih terlalu pagi, saya melewati imigrasi dengan cukup lancar. Tidak ada pertanyaan yang berarti saat itu, seingat saya mbak-mbak petugas imigrasi hanya menyebutkan nama saya, terus mbaknya meminta saya untuk menempelkan kedua jempol saya di alat pemindai sidik jari dan akhirnya dipersilahkan masuk. Yey masuk Singapura akhirnya.

Keluar dari imigrasi saya langsung menuju Skytrain untuk menuju terminal 2. Nantinya, saat di terminal 2 saya akan menggunakan MRT untuk menuju pusat kota Singapura. Nantinya MRT bakalan menjadi transportasi utama saya selain jalan kaki waktu di Singapura ini.

Stasiun MRT bawah tanah
Stasiun MRT bawah tanah

Perjalanan menggunakan MRT ditempuh kurang lebih 30 menit, melewati jalur bawah tanah (underground) dan jalur layang (elevated). Setibanya di stasiun Raffles Place dan turun dari kereta, saya sempat kebingunan harus keluar kemana karena ada beberapa pintu keluar. Sempat salah masuk ke food court tapi akhirnya bisa keluar juga ke arah Battery Rd dan jalan sedikit sudah tiba di samping sungai Singapura (Boat Quay).

Boat Quay dan Merlion Park

Sungai Singapura
Sungai Singapura

Menyusuri Boat Quay saya menjumpai beberapa hal yang menarik, dua diantaranya adalah patung First Generation  (yang menggambarkan anak laki-laki yang bermain di sungai sebelum adanya proyek pembersihan sungai sekitar tahun 1983), dan Patung The River Merchants (yang menggambarkan sejarah mengenai lahan yang saat ini telah terbangun Menara Maybank setinggi 32 lantai di tepi sungai Singapura).

First GenerationThe River Merchants

Menyusuri sungai Singapura selama kurang lebih 30 menit akhirnya saya tiba di Merlion Park. Karena masih cukup pagi jadi belum terlalu ramai dan hanya nampak beberapa orang saja. Di Merlion saya beristirahat sejenak dan tentunya berfoto-foto.

Merlion Park ini dibangun sebagai simbol untuk menyambut kedatangan para wisatawan yang berkunjung ke Singapura, dan diresmikan pada tanggal 15 September tahun 1972 oleh Mr. Lee Kuan Yew, Perdana Menteri Pertama Singapura.Hiraukan yang sedang duduk heheMerlion Park Singapura

Merlion Park SingapuraSetalah puas berfoto dan Merlion mulai ramai didatangi pengunjung, saya memutuskan untuk berjalanan kaki menuju The Helix Bridge yang terlihat dari kejauhan. Dengan berjalan kaki kurang lebih 10 menit melewati Esplanade si Gedung Durian dan The Float si lapangan terapung, akhirnya saya tiba di The Helix Bridge.

The Helix Bridge, Marina Bay Sand, dan ArtScience Museum

The Helix Bridge dan Marina Bay Sands
The Helix Bridge dan Marina Bay Sands

The Helix Bridge merupakan jembatan penghubung antara Marina Center dengan Bayfront areas. Sebelum jembatan ini terbangun para pejalan kaki harus berjalan sejauh 3,5 km jika ingin berkunjung ke Bayfront area dari Marina Center atau sebaliknya.

Jembatan ini memiliki desain yang cukup unik, bentuknya menyerupai bentuk double helix DNA yang menyimbolkan ”life and continuity”, “renewal”, “everlasting abundance”, and “growth”. Di jembatan ini dilengkapi dengan 4 “pods” yang dapat digunakan untuk berfoto atau sekedar melihat panorama pusat kota.

Menyeberangi Helix Bridge saya menjumpai beberapa gedung yang berbentuk cukup unik. Sebetulnya bangunan ini sudah nampak terlihat dari sekitaran Merlion Park, namun lebih terlihat detailnya waktu disekitaran Helix Bridge. Yaitu gedung Marina Bay Sands yang berbentuk seperti kapal dan Gedung ArtScience Museum yang memiliki desain arsitektur yang cukup unik. Dan saya rasa kedua bangunan ini tak perlu saya ceritakan lebih detail karena memang saya belum sempat mengunjungi kedua gedung ini.

ArtScience Museum Singapura
ArtScience Museum Singapura

Berjalan kaki kurang lebih 200 meter dari The Helix Bridge, akhirnya saya masuk di kawasan Gardens by The Bay. Tujuan saya waktu itu adalah mengunjungi Pohon raksasa buatan yang berada di tengah-tengah kawasan Gardens by The Bay ini.

Berjalan kaki selama 15 menit saya akhirnya tiba dibawah deretan pohon yang memiliki tinggi 25 hingga 50 meter ini. Meskipun cuaca pagi itu cukup panas namun angin yang berhembus disekitaran taman ini cukup  kencang, cukup kok untuk mengeringkan keringat yang ada di punggung, hehe.

Setelah keringat sudah agak mengering perjalanan saya lanjutkan lagi untuk mengitari taman di selatan Singapura ini.

Planet dan Dragonfly Bridge

"Planet" by Marc Quinn
“Planet” by Marc Quinn

Melanjutkan perjalanan ke arah utara saya bertemu sebuah patung bayi yang sedang tidur. Patung bayi tersebut terlihat melayang dan hanya telapak tangan bagian luar sebelah kanan saja yang menjadi tumpuan. Dari informasi yang ada, patung ini adalah “Planet” dengan panjang 926 cm, lebar 353 cm, tinggi 383 cm dan berat 7 ton patung ini dibentuk sedemikian rupa sehingga seimbang.

Dirancang oleh seniman ternama Marc Quinn patung ini tak hanya ada di Gardens by The Bay saja namun ada juga kembarannya di Inggris dan Monaco.

Panorama dari Dragonfly Bridge
Panorama dari Dragonfly Bridge

Dari patung “Planet” saya menuju ke Dragonfly Bridge. Dragonfly Bridge merupakan jembatan penghubung antara Gardens by The Bay dengan Marina Bay Sands. Panorama dari atas jembatan ini cukup indah, saya bisa melihat dengan jelas beberapa pohon raksasa, flower dome, dan Singapore Fliyer.

Masjid Sultan, Haji lane, dan  akhirnya check in di hotel

Masjid Sultan Singapura
Masjid Sultan Singapura

Sebetulnya saya belum puas berkunjung ke Gardens by The Bay karena ada beberapa tempat yang belum saya masuki, tapi hari sudah semakin siang. Perjalanan saya lanjutkan menuju daerah bugis. Tujuan pertama adalah Bugis Junction untuk mencari makan siang. Tempat makan yang saya pilih waktu itu adalah KFC yang ada di pojokan Bugis Junction.

Puas mengisi perut saya lanjut berjalan lagi menuju Masjid Sultan yang berjarak kurang lebih 500 meter dari Bugis Junction. Di Masjid Sultan saya menunaikan sholat dhuhur dan beristirahat sejenak sembari mengisi air ke dalam botol yang saya beli waktu di bandara tadi.

Dari Masjid Sultan saya berjalan kembali menyusuri gang-gang kecil disekitaran masjid hingga tembus di Haji Lane. Pada awalnya saya mengira jika Haji Lane merupakan tempat menjual pernak-pernik ibadah Haji/Umroh. Tapi begitu tau isinya cuma Bar dan Cafe saya lantas hanya melewatinya, hehe.

Haji Lane, banyak grafiti tapi saya nggak sadar
Haji Lane, banyak grafiti tapi saya nggak sadar

Setelah berjalan kaki berkilo-kilo meter, saya memutuskan untuk istirahat dan check in di hotel yang sudah dipesan oleh Mas Alid sebelumnya (saya numpang).

Setibanya di hotel saya hanya bisa tidur karena lelah dan diserang alergi kulit yang entah dari mana datangnya. Terpaksa perjalanan terhenti dan saya lanjutkan keesokan harinya.

Cerita hari kedua akan saya post berikutnya.
Selamat Berlibur.. 😊

12 Komentar

  1. Adie Riyanto Balas

    Beberapa tempat di tulisan ini aku lupa memotretnya. Pertama, aku lupa foto di Bandara Changi yang ada tulisan selamat datang itu lho hehehe. Norak yo ben. Kedua, yaitu “Planet” by Marc Quinn. Singapura meski kecil menyimpan ‘pernak-pernik’ tengara yang disebar di banyak tempat. Sepertinya harus melipir lagi kalau transit di Singapura lagi 🙂

  2. Tsurayya Maknun Balas

    Hoala ini toh mas ceritamu pas solo trip ke SG. Sama aku juga bermalam di bandara pas baru nyampe hehe. Aku sih bawa botol kosong dari Indo biar gak beli air mineral dan langsung isi air di sananya hehe.

  3. Liana Balas

    wah waktu ke Garden by the Bay belum sempet melihat patung Planet.
    menarik itu ya mas, bener2 melayang?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *