Berwisata di Kaki Gunung Galunggung Tasikmalaya

Tangga menuju kaldera Galunggung

Jadi ceritanya lagi iseng nih cek di CS (Couchsurfing) buat nyari event. Barang kali ada yang beda dari event yang ada sebelumnya. Nah, ketemulah OT (Open Trip) menuju ke daerah Tasikmalaya Jawa Barat. OT ini saya ikuti bersama dengan 14 orang lainnya yang terdiri dari 12 orang Indonesia, 1 Jerman, dan 1 Filipina.

Singkat cerita nih, perjalanan dari Jakarta dimulai dari depan stasiun Manggarai. Dan berangkat sedikit molor dari jadwal yang seharusnya pukul 9 malam menjadi sekitar pukul 10 malam. Perjalanan ditempuh dengan cukup nyaman tetapi macetnya dimana-mana.

Tiba di Tasikmalaya

Keesokan harinya, sekitar pukul 6 pagi kita sudah tiba di lokasi pertama yaitu di area Gunung Galunggung, jadi perjalannya menempuh waktu kurang lebih selama 7 jam. Saat tiba di kaki Gunung Galunggung kita disambut dengan cuaca gerimis yang disertai kabut tebal.

Gunung Galunggung merupakan salah satu gunung berapi di Jawa Barat yang lokasinya kurang lebih 17 km dari pusat kota Tasikmalaya. Di Kawasan Wisata Gunung Galunggung ini pengunjung bisa menikmati berbagai tempat wisata mulai dari puncak Galunggung hingga pemandian air panas yang sudah dilengkapi dengan fasilitas pendukung berupa kolam, bak rendam, dan kamar mandi.

Warung Galunggung
Mbule’ dari Jerman 😀

Nah, sembari menunggu gerimis reda kami beristirahat dan menyempatkan sarapan mi instan di warung yang ada di sekitaran tempat parkir.

O iya sekedar mengingatkan ya karena lokasinya cukup dingin jangan sampai lupa membawa jaket, jangan kaya saya yang beneran lupa bawa jaket. Apalagi saat itu cuaca kurang bersahabat, dimulai dari cuaca mendung disaat masuk Tasikmalaya, hingga hujan ringan yang terjadi sampai tiba di lokasi kaki gunung.

Setelah hujan mulai reda kita mulai berjalan dengan menaiki anak tangga sebanyak 620 anak tangga. Nah, jumlah anak tangga inilah yang menjadi icon tempat wisata alam ini. Karena cuaca yang sedari pagi hujan ringan, saya terpaksa melepas sepatu dan hanya menggunakan alas kaki berupa sandal japit untuk mendaki ke 620 anak tangga tersebut. Jadi musti lebih waspada biar nggak terpeleset apalagi jatuh di tangga.

620 anak tangga galunggung
Ini difoto dekat pos 1
Nanjak galunggung
Hujan rintik-rintik masih tetap nanjak pake sandal

Namun, karena saking banyaknya kabut jadi pemandangan yang nampak hanya berjarak beberapa meter saja. Mungkin akan jauh lebih indah lagi jika cuacanya cerah, mungkin. Memang kalau berkunjung di tempat wisata alam, cuaca amat sangat menentukan pemandangan yang ada.

Puncak Kaldera Galunggung
Ketika kabut belum terlalu tebal

Meskipun cuaca kurang bersahabat, kita masih sempat melihat indahnya pemandangan kaldera Galunggung yang nampak luas dan hijau dengan latar belakang tebing Galunggung yang cukup tinggi, dan nggak lama setelah itu pemandangan sudah tertutup kabut tebal.

Kaldera Galunggun
Kaldera Galunggun sesaat sebelum ditutup kabut

Kurang lebih 30 menit kita menghabiskan waktu untuk berfoto-foto diatas. O iya diatas juga terdapat view deck yang jika cuaca cerah akan nampak pemandangan Tasikmalaya dari atas ketinggian, ‘katanya.

Viewdeck Galunggung ketika kabut mulai tebal
Viewdeck ketika kabut mulai tebal -,-
Foto diatas Viewdeck
Ladies first katanya
Foto lengkap di viewdeck
Foto lengkap di viewdeck
Turun tangga Galunggung
Foto bareng saat turun tangga 😀

Air Terjun dan Pemandian Cipanas

Puas berfoto-foto kita turun dan menuju ke pemandian air panas Cipanas Galunggung dan juga air terjun Cipanas (Curug Cipanas) yang lokasinya masih satu komplek di Kawasan Wisata Gunung Galunggung.

Nah, dilokasi ini tujuan utamanya adalah tracking menuju air terjun Cipanas. Jarak pintu masuk menuju air terjun lumayan jauh. Dengan masih menggunakan sandal saya berjalan dan mblusuk menuju air terjun ini. Saat perjalanan menuju air terjun kami melewati beberapa kolam air panas yang sudah dibentuk sedemikian rupa menjadi beberapa kolam.

 

Kolam air panas cipanas galunggung
Salah satu kolam air panas

O iya waktu menuju air terjun saya juga melewati jalan setapak di tengah hutan dan juga melewati aliran air yang airnya cukup hangat. Setelah berjalan sekitar 15 menit kami tiba di lokasi air terjun yang tingginya kurang lebih 10 Meter. Jika dibanding dengan air terjun Cilember Bogor, menurut saya masih lebih tinggi dan indah yang ada di Cilember.

Hutan galunggung
Pohon hijau dengan tebing tinggi menjulang
Air terjun Cipanas Galunggung
Air terjun Cipanas Galunggung

Setelah beristirahat dan berfoto disekitaran air terjun, kami kembali turun menuju kolam air panas yang sebelumnya kita lewati. Tiba di kolam air panas saya hanya merendam kaki sekedar untuk mengurangi rasa lelah. Sumber air ini cukup panas dan tidak berbau sama sekali.

Sedikit info ya, ketika masuk tempat ini pengunjung diwajibkan membayar tiket masuk. Tapi tenang sebetulnya ada pemandian air panas yang disediakan gratis tapi tempatnya selalu ramai dan agak kurang diperhatikan.

Puas beristirahat dan merendam kaki, kita kembali ke tempat parkir kendaraan. Di tengah perjalanan menuju tempat parkir kami bertemu dengan penjual air aren. Penjualnya berkata kalau air ini asli disadap dari pohon aren.

Air aren ditempatkan pada wadah bambu dengan panjang sekitar 2 meter. Kata penjualnya, sebelum digunakan sebagai tempat air aren wadah bambu ini dibakar terlebih dahulu agar air aren tidak mudah basi.

Air aren galunggung
Bapak yang jual air aren

Setelah dari Kawasan Wisata Gunung Galunggung, perjalanan kami lanjutkan menuju Kampung Adat Naga yang bakal saya posting setelah tulisan ini.

Terima kasih 🙂

12 Komentar

    • Fajar Rois PenulisBalas

      iya, coba kalo cuacanya nggak berkabut,…kuyakin lebih hijau dan menyegarkan #lebay hehe

    • Fajar Rois PenulisBalas

      iya 620 anak tangga..hehehe….lumayan itu apalagi cuaca hujan makin lambat jadinya hehehe..

    • Fajar Rois PenulisBalas

      iya….suasana seketika itu langsung mencekam tapi nggk bikin bulukuduk berdiri soalnya rame2 hehehe

  1. Tuteh Balas

    Jadi … waktu membaca 620 anak tangga, nafas saya langsung sesak memikirkan bagaimana caranya memindahkan bodi segede parabola ini ke puncak sana supaya bisa ngelihat kaldera-nya. Salah satu caranya adalah ‘menerobos kegelapan pesimisme’ ha ha ha. Bisa sampai puncaknya itu luar biasa. Tapi jika dibanding Gunung Papandayan yang sempat bikin saya mabuk karena aroma belerangnya yang tajam, saya masih memilih Galunggung dengan anak-anak tangganya 😀

    • Fajar Rois PenulisBalas

      tapi menurutku jauh lebih indah di papandayan meskipun ada aroma belerang yg lumayan hahaha..
      kalo di Galunggung sebenernya bagus juga..tapi ya itu waktu kesana cuacanya lagi kurang mendukung..hehe
      ngomongin tangga yang jumlahnya 620 itu, waktu itu sih sempat ngepos berkali-kali,,..apalagi kondisinya sehabis hujan jadi makin hati-hati soalnya agak licin..hehe

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *