Berkunjung ke Kampung Naga Tasikmalaya

Warga Kampung Naga

Baiklah, seperti yang sudah saya jelaskan pada tulisan sebelumnya bahwa saya akan melanjutkan cerita ketika saya berkelana di daerah Tasikmalaya. Jadi, setelah dari Kawasan Wisata Gunung Galunggung perjalanan dilanjutkan ke Kampung Naga yang ditempuh selama 30 menit perjalanan.

Baca Juga: Berwisata di Kaki Gunung Galunggung Tasikmalaya

Tiba di Kampung Naga

Kampung Naga terletak di Desa Neglasari Kecamatan Selawu Kabupaten Tasikmalaya Provinsi Jawa Barat. Tiba di Kampung Naga kita disambut dengan tugu berwarna hitam. Tugu ini bernama Tugu Kujang Pusaka yang saya tau dari tulisan yang ada di tugu ini. Selain tulisan tadi, tugu ini juga dihiasi dengan tulisan aksara sunda yang belum saya fahami sama sekali.

 

Tugu Hitam Kujang Pusaka Kampung Naga
Tugu Hitam Kujang Pusaka Kampung Naga

O iya sebelumnya kita bertemu dengan salah satu pemandu yang merupakan warga asli Kampung Naga. Karena saat bertemu saya masih dibelakang jadinya saya nggak tau deh siapa nama bapak pemandunya.

Nah, dari Tugu hitam tadi perjalan masih dilanjutkan dengan menuruni anak tangga untuk menuju lokasi Kampung Naga. Lokasi Kampung Naga sendiri terletak di tengah persawahan dengan dibatasi bukit dan aliran sungai.

Tampak Kampung Naga dari jauh
Tampak Kampung Naga dari jauh
Turun Tangga Menuju Kampung Naga
Turun Tangga Menuju Kampung Naga

Sepanjang perjalanan menuruni anak tangga kita juga melewati rumah penduduk yang sebenarnya masyarakat keturunan dari Kampung Naga. Karena aturan adat, Kampung Naga dibatasi hanya seluas 1,5 Hektar saja. Jadi, banyak masyarakat Kampung Naga terpaksa meninggalkan kampung untuk mencari tempat tinggal.

O iya ada sebutan tersendiri untuk masyarakat asli Kampung Naga yang tinggal diluar Kampung Naga yaitu Sanaga. Meskipun bertempat tinggal diluar Kampung Adat Naga, Sanaga terkadang tetap mengikuti acara adat yang biasa diselenggarakan di Kampung Naga.

Gazebo kolam ikan

Oke, setelah perjalanan kurang lebih 15 menit kita sampai di Kampung Naga dan beristirahat sejenak diatas gazebo yang ada diatas kolam ikan. Di gazebo ini kita diceritakan banyak hal oleh bapak pemandu tadi. Mulai dari sejarah, adat istiadat, dan segala hal tentang Kampung Naga. Tapi sayangnya cerita yang amat banyak itu sudah saya ingat diluar kepala saya (baca:lupa) hffft.

O iya gazebo ini bukanlah gazebo yang biasanya digunakan sebagai tempat bersantai, oleh masyarakat Kampung Naga gazebo ini berfungsi sebagai tempat menumbuk padi. Nah, kenapa lokasi penumbukan padi dilakukan di gazebo diatas kolam ikan?. Alasannya untuk menghindari debu hasil tumbukan serta kulit padi beterbangan dan sekaligus untuk memberi makan ikan-ikan yang ada dikolam, smart yah hehe.

Gazebo diatas kolam ikan Kampung Naga
Gazebo diatas kolam ikan Kampung Naga

Setelah mendengar informasi dari bapak pemandu tadi saya baru sadar ternyata saya masih berada diluar Kampung Naga. Jadi, wilayah Kampung Naga ternyata dibatasi oleh pagar bambu dan didalam batas bambu itu tidak ada toilet dan tempat-tempat yang dianggap kotor oleh adat Kampung Naga. Selain toilet, ada juga kandang kambing dan kolam ikan yang sengaja diletakkan diluar kampung.

Masuk ke Kampung Naga

Perjalanan dilanjutkan kembali untuk memasuki wilayah Kampung Naga. Tempat pertama yang kita singgahi adalah lapangan atau masyarakat setempat menyebutnya Bale Patemon. Biasanya tempat ini digunakan untuk tempat berkumpul, acara adat, hingga tempat menjemur padi. O iya jika datang ke kampung ini setelah musim panen biasanya penduduk Kampung Naga menjemur padinya ditempat ini dengan diletakkan dalam tampah dan disusun rapi.

Ada banyak hal unik yang ada di Kampung Naga ini. Mulai dari bentuk rumah, aturan adat, dan masih banyak lainnya. Oke, dimulai dari bentuk rumah yang ada di Kampung Naga, seluruh rumah yang ada di Kampung Naga ini memiliki bentuk yang serupa dan hanya dibedakan dengan ukurannya saja. Seluruh atap rumah yang ada dikampung ini terbuat dari ijuk atau rumbia, yaitu sabut atau pelepah pohon aren.

Rumah beratapkan ijuk dan saling berhadapan
Rumah beratapkan ijuk dan saling berhadapan

Posisi rumah juga saling berhadapan dan semuanya menghadap hanya ke arah utara atau selatan sedangkan bangunan rumahnya memanjang ke timur atau barat. Selain bentuk dan arah rumah yang hampir sama, konstruksi seluruh rumah dibuat berupa rumah panggung. Sehingga tidak ada rumah yang menyentuh tanah secara langsung, tak terkecuali bangunan yang lainnya.

Waktu itu kita diperkenankan untuk melihat isi rumah yang ada di Kampung Naga. Nah, rumah yang kita masuki adalah rumah bapak pemandu. Ruangan yang kita memasuki adalah ruangan dapur yang tentunya masih sangat sederhana menggunakan kayu bakar sebagai bahan bakar utamanya.

Sebetulnya didalam rumah ini sudah ada kompor dengan bahan bakar LPG. Namun penggunaan kompor berbahan bakar kayu masih sangat diprioritaskan karena selain lebih hemat dan nyala apinya lebih besar, abu dan arang bekas bakaran juga dapat dimanfaatkan untuk menghilangkan bau kotoran ayam yang ada dikolong rumah.

O iya hampir lupa, setiap rumah yang ada di Kampung Naga memiliki peliharaan ayam yang kandangnya diletakkan dibawah rumah, tepatnya dibawah dapur. Nah, abu atau arang hasil pembakaran di dapur bisa langsung ditaburkan di kandang ayam dengan membuka lantai kayu yang ada di dapur.

Makanan penduduk Kampung Naga?

Persawahan di Kampung Naga
Persawahan di Kampung Naga

O iya sebelum lebih jauh menceritakan apa yang biasanya penduduk Kampung Naga konsumsi, saya mau bercerita sedikit tentang kenyataan atau fakta yang ada di Kampung Naga. Jadi disaat perkembangan teknologi berjalan kian cepatnya penduduk Kampung Naga justru menutup diri dari perkembangan teknologi yang ada saat ini.

Bahkan warga Kampung Naga menolak untuk menggunakan listrik yang katanya secara gratis diberikan dari pemerintah Tasikmalaya.

Oke, balik lagi ke subtopik diatas. Penduduk Kampung Naga memanfaatkan hasil ternak dan hasil taninya untuk konsumsi sehari-hari. Sama halnya dengan masyarakat Indonesia pada umumnya penduduk Kampung Naga juga mengonsumsi nasi sebagai makanan pokok. Yang membedakannya mungkin jenis padinya. Padi yang ditanam disekitar kampung ini merupakan padi organik. Selain tanaman padi, disekitar Kampung Naga juga ditanami berbagai rempah-rempah dan sayur-sayuran.

Nah sedangkan untuk asupan hewani penduduk Kampung Naga memanfaatkan Ikan dan hewan ternaknya sebagai lauknya. Tetapi penggunaan ikan, ayam, dan kambing tidak setiap hari digunakan sebagai lauk. Lauk-lauk tersebut hanya akan dimasak ketika ada acara adat. Bahkan bapak pemandu bilang bakalan bisa makan besar ketika sedang ada acara adat.

Kepercayaan di Kampung Naga

Sesajen dipintu rumah
Sesajen dipintu rumah

Seluruh penduduk Kampung Naga memeluk agama Islam, oleh karenanya di kampung ini juga terdapat bangunan Masjid yang terletak tak jauh dari Bale Patemon. Selain itu ketaatan masyarakat akan budaya dan adat istiadat masih terasa sangat kuat. Ketaatan itu salah satunya dibuktikan dengan beberapa sesaji yang terdapat ditiap-tiap pintu rumah. Tapi lagi-lagi saya lupa untuk menanyakan untuk apa sesaji yang diletakkan di tiap pintu rumah tersebut.

Kampung Naga memiliki dua tempat yang dikeramatkan yaitu bukit yang ada dibelakang kampung yang katanya diatas bukit tersebut merupakan lokasi pemakaman adat Kampung Naga. Tempat keramat yang kedua yaitu hutan larangan yang terletak diseberang sungai. Karena aturan adat hutan itu tidak boleh dimasuki dan dijamah sama sekali.

Sebetulnya ada banyak hal menarik yang ada di Kampung Naga. Tetapi karena keterbatasan waktu banyak hal yang belum saya explore.
Sekian.

Bapak Pemandu yang menemani perjalanan
Bapak Pemandu yang menemani perjalanan

7 Komentar

  1. Darma Balas

    Saya baru tau ada kampung naga. Padahal kampung saya dikuningan yg deket sama tasik tp gk tau..
    Keren bgt ya masih asri gitu..

  2. Adi Stia Utama S Balas

    Saya baru tau ini kampung dan baru kali ini mendengarnya
    waah jauh dari teknologi y
    cocok nih tempat cari jodoh, ceweknya berarti gak ada yg alay2 bang

  3. Dian Safitri Balas

    Pengen banget ke Kampung Naga, tapi sampai saat ini masih belum berjodoh. Padahal jaraknya dari kampung halaman aku sudah enggak terlalu jauh juga.
    Aku kagum bukan hanya karena mereka masih mempertahankan budaya di tengah kemajuan teknologi saja. Tapi cara peletakan segalanya semuanya diperhitungkan dengan seksama oleh leluhur mereka. Terbukti gempa di yang terjadi beberapa tahun lalu sama sekali tidak membuat rumah mereka roboh.

    • Fajar Rois PenulisBalas

      O iyaya, kemarin kok nggak sempat kepikiran nanyain tentang bencana alam ya…tapi mungkin memang leluhurnya jauh lebih maju pemikirannya ya..

  4. Tuteh Balas

    Yay! Ini kampung favorit saya waktu jalan-jalan keliling Jawa Barat! Saya juga pernah bikin tulisannya meski belum seberapa komplit. Nanti mau bikin yang komplit ah. Tengkyuuuuu 🙂

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *